Siapa sih Perempuan itu?

Siapa sih, yang tak tahu manusia yang bernama “perempuan”? Pasti semua orang tahu dong? Tapi, tahu tidak sih, siapa perempuan itu? Kalau sepintas kitalihat dari fisik, perempuan itu adalah manusia yang tidak menyamai lelaki. Baik, dari sifat, struktur tubuh, dan jenis kelamin. Perempuan terlihat lebih feminin, mempunyai panyudara dan tempat melahirkan bayi. Sekalipun, ada sebagian perempuan terlihat maskulin (sifat laki-laki) karena memang mepunyai kelainan psikis. Namun, seperti apa pun corak perempuan itu, secara biologis, ia adalah perempuan utuh sebagaimana perempuan normal lainnya. 

Nah, itu menurut sekilas pandang loh. Ada loh, jawaban yang lebih dalam dari itu. Yuk, kita lanjut!

Menurut Qonita Salsabila (2008:12), pertumbuhan perempuan secara biologis, “Terdapat lima hal yang akan berkembang selama cewek (perempuan) berada masa puber (suatu masa ketika seseorang telah sampai pada saat ia mampu untuk bereproduksi), yaitu pertambahan tinggi dan berat badan signifikan; perkembangan kelenjar seks atau ovaries (indung terlur); perkembangan karakteristik seks sekunder seperti tumbuhnya panyudara dan bulu kelamin; perubahan komposisi tubuh seperti bertambahnya jumlah lemak dan distribusinya yang berbeda dengan cowok; dan perubahan pada sistem sirkulasi dan pernafasan tubuh sehingga meningkatkan kekuatan dan toleransi terhadap stres.”.

Ciri Fisik

Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si. (2012: xxiv) berpendapat, “ciri fisik yang membedakan antara perempuan dan laki-laki adalah fakta bahwa perempuan mengalami Haidh, dapat hamil, melahirkan, dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Meskipun demikian, tidak semua perempuan mengalami haidh, dapat hamil, melahirkan, dan menyusui. Oleh karena itu, hamil, melahirkan dan menyusui bukanlah tugas perempuan, melainkan potensi yang dimiliki oleh sejumlah perempuan, sementara sejumlah perempuan lain yang tidak memiliki tersebut tetap dipandang sebagai perempuan yang "normal" dalam batas tertentu, dan tetap berbeda secara fisiologis dan biologis dengan laki-laki umumnya”.

Psikologi Perempuan

Masih Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si. (2012: xxv), “pada umumnya, perempuan dicitrakan atau mencitrakan dirinya sendiri sebagai makhluk yang emosional, mudah menyerah (submisif), pasif, subjektif, lemah dalam dalam matematika, mudah terpengaruh, lemah fisik, dan dorongan seks rendah. Sementara laki-laki dicitrakan atau mencitrakan dirinya sebagai makhluk yang rasional, logis, mandiri, agresif, kompetitif, objektif, senang berpetualang, aktif, memilik fisik dan dorongan seks yang kuat”.

Hasil penilitian lain, umumnya perempuan sejak kecil hingga dewasa menunjukkan kemampuan verbal yang lebih baik. Anak perempuan biasanya mulai bebicara lebih awal, cenderung memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak, memperoleh prestasi di sekolah, mengerjakan tugas membaca dan menulis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak laki-laki sejak kecil hingga dewasa memperlihatkan kemampuan spasial lebih baik, mengerjakan tugas spasial lebih baik, memiliki kemampuan matematika, geografi, dan politik yang lebih maju daripada anak perempuan, meski perbedaan ini sangat tipis (Halpern, 2004).

Bagaimana peran perempuan dalam struktur sosial?

Secara umum, dalam struktur sosial, perempuan tidak mempunyai perbedaan secara signifikan. Dia juga mempunyai peran penting dalam menjalin kehidupan bermasyarakat sebagaimana laki-laki. Misalkan, bersosialisasi, belajar ilmu, mendidik, berniaga, berpolitik dsb. Meskipun tingkat psikologis perempuan di bawah laki-laki, perempuan tetap punya peran dan kemampuan setelah laki-laki.

Perempuan dalam sejarah lama

Dalam sejarah, perempuan lebih dipandang rendah dan tersingkirkan. Ketika itu, nalar para pemikir dan tradisi sesat membuat batin kaum perempuan sangat suram. Berikut beragam pandangan tentang perempuan dalam sejarah pemikir lama dan tradisi:

Aristoteles melihat perempuan sebagai manusia yang tidak sempurna. Kata Aristoteles, perempuan adalah pria yang tidak produktif. So, kedudukan perempuan cuma sebagai wadah untuk embrio agar tumbuh menjadi anak. Hanya prialah manusia sempurna. Hubungan pria dan perempuan secara alamiah adalah pria lebih tinggi dan perempuan lebih rendah, juga bahwa prialah yang menguasai dan perempuan dikuasai.

Lain lagi, dengan tradisi Romawi dan Helenis yang membagi masyarakatnya dalam tingkatan-tingkatan dan kedudukan perempuan berada di bawah kedudukan laki-laki. Beberapa pastur gereja bahkan mengatakan, "Cuma laki-laki yang diciptakan dalam citra Tuhan." Bahkan, Paus melarang perempuan mengajar di gererja.

Dalam agama Nasrani, perempuan mempunyai posisi setali tiga uang, yaitu berada di bahwa laki-laki bahkan dosa asal yang harus ditebus. Menurut Injil, perempuan (Hawa) telah berdosa dan kemudian menggoda laki-laki  (Adam) untuk melakukan hal yang sama. Akibatnya, Tuhan mengusir keduanya dari surga ke bumi, yang telah dan akan terus dikutuk karena perbuatan mereka itu. Mereka mawariskan dosanya yang tidak pernah diampuni Tuhan, kepada seluruh keturuan mereka. So, setiap manusia terlahir dalam keadaan berdosa. Untuk menyucikan manusia dari dosa asal itu, Tuhan harus mengorbankan Yesus, yang dianggap sebagai anak Tuhan, di tiang salib. Dengan semikian, perempuan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri, kesalahan suaminya, dosa asal seluruh umat manusia, dan kematian Tuhan. Dengan kata lain, setiap perempuan yang bertindak sekehendak hatinya akan menyebabkan kehancuran manusia (Rosemary R. Ruether, Women in World Religion dalam Membela Perempuan Menakar Feminisme dengan Nalar Agama).

Menurut Yunani Kuno dan Romawi yang anti perempuan:

"Baik dalam maupun hukum menempatkan perempuan dalam kondisi subordinat () di hadapan pria." (Irenaeus, fragmen no. 32 dalam Membela Perempuan Menakar Feminisme dalam Nalar Agama).

"Siapa di sana yang mengajarkan sesuatu terpisah dari perempuan? Adalah benar bahwa perempuan merupakan ras lemah, tak dapat dipercaya, dan dan ber-intelegensia mediocre (Berdaya pikir yang pas-pasan). Sekali lagi, kami melihat iblis mengetahui cara membuat perempuan, memberikan ajaran-ajaran yang jahat, sebagaimana dia berhasil melakukan itu dalam kasus Quintilla, Maxima dan Priscilla (Ephiphanius, Panarion, 79, Hal. 1).

Dalam sejarah arab kuno (Masa Jahiliyah), bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Jika terselamatakan dari siksaan tersebut, maka ia hidup dalam kenestaan dan kehinaan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59)

Ketika itu, kaum ibu-ibu sangat sedih manakala melahirkan bayi perempuan yang sangat lucu. Seakan, mereka tidak mempunyai tempat untuk menyelamatkan sang buah hatinya dari ancaman pemikir sesat.

Bagaimana perempuan di dalam Islam?

Islam tidak membedakan perempuan dengan laki-laki. Perempuan sama mempunyai kewajiban menyembah Tuhan, mengikuti perintahNya dan menjegah larangan-Nya. Di hadapan Allah, perempuan dan laki-laki itu sama, hanya dipandang sejauh mana kesalihan umatnya. Begitu pun dalam tingkat sosial, Islam tidak membatasi perempuan berperan penting. Baik dalam segi berpendidikan, bersosialisasi, berbisnis, berpolitik, membela agama dan negara, dsb. Islam memandang perempuan adalah sebagian dari laki-laki yang berperan pendukung dalam kepentingan umat (masyarakat luas).

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah [9]: 71)

Dikutip dari pemikiran Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si. (2012: xxxvi), “Islam memandang sama kepada perempuan dan laki-laki dari segi kemanusiaanya. Perempuan adalah manusia sebagaimana laki-laki. Islam memberi hak-hak kepada perempuan seperti yang diberikan kepada laki-laki dan membebankan kawajiban yang sama kepada keduanya, kecuali terdapat dalil syara yang memberi tuntunan dan tuntunan khusus untuk perempuan dan laki-laki, yang jumlahnya sangat sedikit, dan kebanyakan dalil syara yang tidak diciptakan untuk khusus untuk perempuan atau khusus untuk laki-laki, melainkan untuk keduanya sebagai insan (QS. Al-Hujarat [49]:13; QS. Al-Najm [53]:45; QS. Al-Qiyamah [75]:39)”.

Dalam hal ini, dapat dibuktikan dari sejarah peradaban Islam, dimana perempuan sangat dihormati dan dihargai. Berikut beberapa contoh perempuan dalam sejarah islam yang dikutip dari buku “Akhwat vs Cewek”, karya Qonita Salsabila:

Siti Khadijah, istri yang paling dicintai Rasulullah, menjadi teladan pembisnis sukses kaya raya dan dermawan. Selain kaya, beliau juga orang pertama yang beriman dan membela Rasulullah tatkala orang lain mengingkarinya. Sebab itulah, beliau disebut ummul mukminin--ibunya semua orang mukmin (2012: 65).

Fatimah binti Muhammad adalah putri Nabi Muhammad Saw buah dari pernikahnya dengan Khadijah. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib yang miskin, sehingga Fatimah perlu bekerja keras tanpa mengeluh. Tiap hari ia menggiling beras, mengambil air dengan qirbah (tempat air) dan membereskan rumah tanpa bantuan pembantu. Fatimah juga sering ikut turun berjuang perang Khandaq, Khaibar, Fathul Makkah (penaklukan kota mekah), bahkan pernah mengobati Rasulullah Saw ketika perang Uhud (2012: 73).

Shafiyah binti Abdul Muthalib dikenal karena keberaniannya. Apalagi, ketika ia berjihad bersama Rasulullah Saw. pada perang Uhud. Sebagaimana dalam riwayat Hisyam bin Urwah Ra. diceritakan bahwa pada hari pertempuran, Shafiyah berada di medan tempur membawa tombak, padahal waktu itu banyak orang yang mundur dari peperangan. Lalu, ia maju ke medan perang dang menghina orang-orang yang mundur. Ujarnya, "Kalian lari dari Rasulullah" (2012: 80).

Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Rasulullah termuda. Setelah kepergian Rasulullah, Aisyah menghabiskan sisa usianya untuk mengajar dan berdakwah hingga beliau wafat di usia yang ke 66 tahun (2012: 85).

Nah, dari contoh beberapa tokoh perempuan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Islam memang tidak pernah memberi batasan terhadap perempuan dalam struktur mana pun. Apalagi, sampai memberi pemikiran-pemikiran yang justru menyayat hati kaum perempuan di dunia. Sejak peradaban Islam, perempuan justeru amat dimulyakan kedudukannya, dijaga dengan baik batin dan dzahirnya.

Beberapa contoh tindak kepedulian Islam terhadap perempuan:

a. Perempuan diwajibkan mengenakan hijab, agar ia terlindunghi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, perempuan itu aurat. Diman ada aurat terpajang, di sekitarnya mudah tertarik dan bersyahwat. Ketertarikan dan syahwat akan lebih memudahkan malapetaka dan tidak aman. Misal, gangguan lelaki hidung belang dan pelecehan seksual. Perempuan berhijab terjamin lebih aman daripada membeberkan aurat.

b. Perempuan yang lajang maupun yang sudah menikah dilarang keluar malam sendirian di malam hari, kecuali ada keperluan mendesak atau bersama mahram atau suami.

"Allah telah mengizinkan bagi kalian (para wanita) untuk keluar rumah memenuhi kebutuhan kalian." (HR. Bukhari)

Kenapa tidak boleh keluar sendirian? Nah, selaras dengan penjelasan pertama, bahwa perempuan itu aurat. Jika sekali ia melangkah keluar rumah, maka setan akan menyoleknya dengan pemandangan yang memesona.

"Wanita itu adalah aurat, ketika ia keluar, setan akan memperindahnya." (HR. At-Tirmidzi).

Siapakah sih perempuan itu?

Makhluk yang terlihat cantik, lembut hatinya, anggun tutur katanya, berjiwa pengasuh, penyayang dan berlapang dada, dialah perempuan. Meski, ia mudah rapuh dan mudah menangis, tapi ada kekuatan batin ajaib lebih dahsyat daripada makhluk mana pun.

Sudah terbukit dari zaman ke zaman, bahwa menjadikan manusia lebih bertahan hidup dan berkembang sehingga tercipta peradaban di muka bumi, dari mengandung anak manusia, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan membesarkannya, tiada lain dialah perempuan. Kemulyaan sosok manusia yang bernama "perempuan" memang tidak akan pernah tenggelam sepanjang masa. Karena perempuan, lelaki tidak hampa. Karena perempuan, manusia bertahan hidup. Karena perempuan, ibu itu ada*

Terima Kasih Telah Berkunjung
Judul: Siapa sih Perempuan itu?
Ditulis Oleh Airi Altairaksa
Jika mengutip harap berikan link DOFOLLOW yang menuju pada artikel Siapa sih Perempuan itu? ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatian anda

2 Responses to "Siapa sih Perempuan itu?"

  1. artikel yang sangat bermafaat, silakan kunjungi kembali ke Budesumiyati.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kunjungan dan apresisainya. Semoga menjadi silaturrahmi penuh berkah. Aamiin.

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel